NALAR BRILLIANT

Bagaimana alam bekerja tidak sia-sia: Darimana datangnya semua tata-tertib dan keindahan yang kita lihat di dunia? Tidakkah tampak dari gejala-gejala tersebut bahwa ada suatu Diri yang tak tampak, tapi hidup cerdas hadir di segala tempat, yang bersifat tak terbatas dalam ruang (isaac newton)

Foto Saya
Nama: nalar brilliant
Lokasi: jakarta, jakarta, Indonesia

Mengenal diri adalah salah satu jalan mengenal TUHAN, jika ANDA mengenal saya, pasti TUHAN juga mengenal ANDA

Kamis, 2009 Januari 22

Petikan Pidato Perdana Obama (versi Indonesia)
















Presiden Amerika Serikat yang ke-44 Barack Obama menyampaikan pidato perdana (Getty Images)
Petikan pidato pelantikan presiden AS ke-44 Barack Obama adalah sebagai berikut:
Hari ini saya berdiri di sini, merasa rendah hati karena tanggung jawab yang dihadapi, berterima kasih karena kepercayaan yang Anda berikan. Terimakasih kepada Presiden Bush yang telah berkontribusi buat negara kita, serta murah hatinya dalam kerjasama serah terima pekerjaan.
Ekonomi
Orang khawatir bahwa kemerosotan kondisi Amerika tidak dapat dihindarkan, tantangan sangat realistis dan sangat serius juga tidak mudah diselesaikan. Tetapi kita harus menghadapi tantangan ini.
Hari ini, kita berkumpul di sini adalah untuk memilih harapan bukan kekhawatiran, bersatu bukan perbedaan pendapat, atasi keluhan dan komitmen yang tidak realistis. Amerika Serikat masih negara yang muda, sekarang kita harus mempersatukan kembali semangat solidaritas untuk mendorong warisan pandangan generasi ke generasi.
Kita adalah negara besar, tidak ada jalan pintas. Bagi mereka yang mengejar reputasi, kekayaan dan kenyamanan, ini bukanlah jalan anda. Banyak orang yang tidak dikenal berjuang dan berkorban, memberikan kontribusi dan membangun kesejahteraan prestasi Barat. Kita dapat melihat bahwa pengorbanan setiap individu membentuk prestasi kekayaan nasional, kita masih negara yang paling kuat, pekerja kami masih yang paling kreatif, masih ada permintaan pelayanan,ini tidak terpengaruh.
Tapi era ini mendapat tantangan, kepentingan pandangan jangka pendek tidak cocok, kita harus mengkonsolidasikan kekuatan, kembali membentuk Amerika Serikat.
Melihat-lihat ke sekeliling, menuntut kami untuk merespon dengan cepat dan bertindak dengan berani. Selain pekerjaan baru, infrastruktur, harus juga membangun jembatan-network, dan meningkatkan pembangunan pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengembangan energi bersih, pelatihan guru universitas, ini adalah yang dapat kita lakukan dan akan dilakukan.
Beberapa orang bertanya kita tidak akan ada rencana besar. Apa mereka lupa dengan prestasi negara yang telah ada, mereka tidak memahami Amerika telah berubah. Kami akan mengalokasi dana umum secara baik untuk memulihkan kepercayaan rakyat yang berharga kepada pemerintah. Jangan bertanya lagi apakah pasar adalah kekuatan yang penting, kekuatan pasar mendistribusikan kekayaan sudah berubah menjadi tidak merata, hanya mendukung orang kaya tidak dapat dilanjutkan lagi. Adalah penting setiap kemampuan, harus perhatian kekayaan bersama dan harapan bersamaan kami.
Keamanan
Melalui kekuatan kita melindungi diri sendiri, bukan menggunakan senjata, mesti dengan hati-hati menggunakan senjata, dengan begitu baru dapat menampilkan rendah hati. Dengan mengikuti prinsip ini, kami akan dapat menghadapi tantangan, dan memperkuat kerja sama dan pengertian antar negara, mengakhiri perang di Irak, melindungi keamanan Afganistan. Terhadap orang-orang yang melalui gaya membunuh orang-orang tidak bersalah demi mendorong hidup mereka sendiri, Anda tidak dapat menghancurkan kami, kami akan menghancurkan kalian.
Hubungan luar negeri
Amerika Serikat telah menderita karena perang saudara dan perbedaan etnis, kami tidak dapat menempuh jalan kembali lagi. Amerika ingin berperan di dunia ini. Bagi umat Islam, kita mempunyai kepentingan umum yang sama. Terhadap pemimpin negara, jika mereka hanya melemparkan masalah ke di Barat, orang-orang akan percaya Anda adalah menghancurkan kekuatan bukan membangun kekuatan. Untuk negara-negara miskin, kami akan berdiri di samping Anda. Untuk negara-negara kaya, kami tidak dapat mengabaikan lagi keadaan negara-negara lain, tidak dapat menghamburkan sumber daya lagi.
Perasaan tanggung jawab
Kami membutuhkan sebuah rasa tanggung jawab pada era baru. Setiap penduduk Amerika harus menyadari tanggung jawabnya terhadap negara dan dunia. Mesti meningkatkan rasa tanggung jawab ini, membentuk kepribadian kita. Ini merupakan komitmen dari setiap warga negara dan merupakan sumber keyakinan.
Tidak peduli apa ras dan agama kita, semua dapat bergabung dengan perayaan besar hari ini. Lebih dari 40 tahun yang lalu, beberapa orang bahkan tidak dapat menghadiri acara publik, tapi sekarang mereka bisa berdiri di sini dan mendengarkan pidato saya. Kita harus ingat hari ini: Siapakah kami. Dalam cuaca yang paling dingin ini, leluhur kita berkata seperti ini "Mari kita beritahu dunia masa depan, hanya harapan dan budi luhur yang bisa bertahan. Di hadapan cuaca musim dingin, marilah kita tabah menghadapi krisis. Kita tidak akan gagal.”
Terima kasih, Tuhan memberkati Amerika.(lim)

Full text of President Barack Obama's speech

Full text of President Barack Obama's speech
Full text of President Barack Obama's speech.
"My fellow citizens:
I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition.
Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because we the people have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents.
So it has been. So it must be with this generation of Americans.
That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.
These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land -- a nagging fear that America's decline is inevitable, that the next generation must lower its sights.
Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America -- they will be met.
On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.
On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn-out dogmas, that for far too long have strangled our politics.
We remain a young nation, but in the words of scripture, the time has come to set aside childish things. The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.
In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of shortcuts or settling for less. It has not been the path for the fainthearted -- for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things -- some celebrated, but more often men and women obscure in their labor, who have carried us up the long, rugged path toward prosperity and freedom.
For us, they packed up their few worldly possessions and traveled across oceans in search of a new life.
For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and plowed the hard earth.
For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sanh.
Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; greater than all the differences of birth or wealth or faction.
This is the journey we continue today. We remain the most prosperous, powerful nation on Earth. Our workers are no less productive than when this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and services no less needed than they were last week or last month or last year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat, of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions -- that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.
For everywhere we look, there is work to be done. The state of the economy calls for action, bold and swift, and we will act -- not only to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that feed our commerce and bind us together. We will restore science to its rightful place, and wield technology's wonders to raise health care's quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform our schools and colleges and universities to meet the demands of a new age. All this we can do. And all this we will do.
Now, there are some who question the scale of our ambitions -- who suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their memories are short. For they have forgotten what this country has already done; what free men and women can achieve when imagination is joined to common purpose, and necessity to courage.
What the cynics fail to understand is that the ground has shifted beneath them -- that the stale political arguments that have consumed us for so long no longer apply. The question we ask today is not whether our government is too big or too small, but whether it works -- whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And those of us who manage the public's dollars will be held to account -- to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light of day -- because only then can we restore the vital trust between a people and their government.
Nor is the question before us whether the market is a force for good or ill. Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched, but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the market can spin out of control -- the nation cannot prosper long when it favors only the prosperous. The success of our economy has always depended not just on the size of our Gross Domestic Product, but on the reach of our prosperity; on the ability to extend opportunity to every willing heart -- not out of charity, but because it is the surest route to our common good.
As for our common defense, we reject as false the choice between our safety and our ideals. Our founding fathers, faced with perils we can scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the rights of man, a charter expanded by the blood of generations. Those ideals still light the world, and we will not give them up for expedience's sake. And so to all other peoples and governments who are watching today, from the grandest capitals to the small village where my father was born: know that America is a friend of each nation and every man, woman and child who seeks a future of peace and dignity, and we are ready to lead once more.
Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring convictions. They understood that our power alone cannot protect us, nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our power grows through its prudent use; our security emanates from the justness of our cause, the force of our example, the tempering qualities of humility and restraint.
We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once more, we can meet those new threats that demand even greater effort -- even greater cooperation and understanding between nations. We will begin to responsibly leave Iraq to its people and forge a hard-earned peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the specter of a warming planet. We will not apologize for our way of life, nor will we waver in its defense, and for those who seek to advance their aims by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us, and we will defeat you.
For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus -- and nonbelievers. We are shaped by every language and culture, drawn from every end of this Earth; and because we have tasted the bitter swill of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter stronger and more united, we cannot help but believe that the old hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall reveal itself; and that America must play its role in ushering in a new era of peace.
To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society's ills on the West -- know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.
To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to the suffering outside our borders; nor can we consume the world's resources without regard to effect. For the world has changed, and we must change with it.
As we consider the road that unfolds before us, we remember with humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through the ages. We honor them not only because they are guardians of our liberty, but because they embody the spirit of service, a willingness to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this moment, a moment that will define a generation, it is precisely this spirit that must inhabit us all.
For as much as government can do and must do, it is ultimately the faith and determination of the American people upon which this nation relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees break, the selflessness of workers who would rather cut their hours than see a friend lose their job which sees us through our darkest hours. It is the firefighter's courage to storm a stairway filled with smoke, but also a parent's willingness to nurture a child, that finally decides our fate.
Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends -- honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism -- these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history. What is demanded then is a return to these truths. What is required of us now is a new era of responsibility -- a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so defining of our character, than giving our all to a difficult task.
This is the price and the promise of citizenship.
This is the source of our confidence -- the knowledge that God calls on us to shape an uncertain destiny.
This is the meaning of our liberty and our creed -- why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than 60 years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.
So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we have traveled. In the year of America's birth, in the coldest of months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation ordered these words be read to the people:
"Let it be told to the future world ... that in the depth of winter, when nothing but hope and virtue could survive ... that the city and the country, alarmed at one common danger, came forth to meet" it.
America. In the face of our common dangers, in this winter of our hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue, let us brave once more the icy currents, and endure what storms may come. Let it be said by our children's children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God's grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.
Thank you. God bless you. And God bless the United States of America.

Senin, 2008 September 22

DARI “MUDIK SOSIAL” MENUJU “MUDIK SPIRITUAL”

Oleh Muhibuddin Alawy

Fenomena mudik atau pulang kampung bagi masyarakat muslim menjelang hari raya Idul Fitri dan juga Idul Adha di Indonesia adalah suatu tradisi yang sangat unik dan banyak menyedot perhatian banyak kalangan, baik oleh pemerintah, pengusaha, bahkan media massa yang memberikan porsi pemberitaan yang khusus selama musim mudik ini berlansung. Bahkan banyak pula partai politik yang berlomba-lomba untuk memberikan fasilitas transportasi dengan tema ‘mudik bersama’ untuk menarik simpati masyarakat.

Sebagaimana tradisi-tradisi lainnya yang berkembang subur di masyarakat, mudik telah dianggap ritual yang wajib dijalani oleh mayoritas masyarakat perkotaan untuk kembali ke kampung halaman bertemu dan berbagi kasih dengan orang tua, keluarga dan sanak saudara, bersilaturrahim dengan masyarakat kampung halaman yang telah membesarkannya dahulu, dan yang utama adalah untuk mendapatkan kebebasan dosa dengan saling bermaaf-maafan (wal ‘afiina aninnas).

Secara sosiologis, mudik dapat difahami sebagai fenomena sosial dimana masyarakat merelakan dirinya untuk bersusah payah berbondong-bondong dalam kemacetan, berdahaga dan lelah dalam perjalanan nun jauh, berdesak-desakan dalam gerbong kereta, membelanjakan sejumlah harta untuk berbagi dengan sesama. Semua itu digerakkan oleh rasa kangen dan rindu akan kasih orang tua terutama ibu, rindu akan kedamaian bersama dan berkumpul dengan keluarga, saling berbagi dengan sanak saudara, dan bertemu dengan handai taulan yang telah lama tidak bertemu. Semua fakta sosial yang berbalut oleh kondisi kejiwaan ini dapatlah dimaknai sebagai fenomena sosio-psikologis, dimana ada dorongan-dorongan psikologis yang ‘mewajibkan’ seseorang untuk menjalani ritual mudik tersebut dengan apapun resiko yang dihadapinya. Sebab fakta mengatakan bahwa di saat mudik-lah angka statistik kecelakaan lalulintas meningkat dibanding dengan di saat hari-hari biasanya.

Secara ekonomis, mudik juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah akibat dinamika peredaran uang yang cukup massif di daerah. uang yang semula sirkulasi peredarannya mayoritas di perkotaan terutama ibu kota, maka di kala mudik masyarakat akan membawa dan membelanjakannya di kampung halaman atau di daerahnya. Maka tidak heran jika di kala musim mudik, toko-toko sembako dan makanan suguhan ramai diserbu pengunjung, gerai pakaian juga ramai pembeli, itulah musim panen bagi para pemiliknya sebab kuntungan besar akan didapat.

Sesungguhnya, ada banyak nilai yang dapat digali dan dikembangkan dengan tradisi mudik sosial ini. Bahwa setiap kita semestinya tidak melupakan asal-usul kita, tempat kita berasal dan dilahirkan, sanak saudara yang masih terikat darah dengan kita, serta masyarakat yang telah membesarkan kita. Para pemudik tidaklah menganggap masalah dengan berdesak-desakan di kendaraan, berpeluh dalam perjalanan, dan tentunya dengan ongkos yang tidak murah sebab setiap mudik harga selalu istimewa, yang semuanya itu dilakukan hanya untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi mendekap rindu yang telah lama terpendam di kalbu.

Dengan mudik, seseorang merasa menemukan kembali asal-usulnya, seakan hilang ‘haus’ dan ‘dahaga’ rindu akan belai kasih orang tua, kehangatan hubungan sanak saudara, keakraban silaturahmi dengan masyarakat sekitar. Semua rasa itu tak akan tergantikan dengan perkalian materi ataupun uang dan juga tidak dapat diwakilkan oleh siapapun. Sebab dengan menjalani ritual mudik, seseorang seakan telah me-recharge energi spiritualnya.

Oleh karena itu, untuk menjalani ritual tahunan ini, ada banyak hal yang harus dipersiapkan secara matang, sebab jika tidak dipersiapkan dengan baik maka bisa jadi akan ada banyak halangan dan ketidaknyamanan dalam perjalanan mudik yang akan dihadapi, karena perjalanan mudik secara massif terjadi di hari-hari akhir menjelang hari H, maka sudah dapat dipastikan kepadatan arus lalulintas yang dapat mengakibatkan kemacetan panjang di jalan-jalan yang merupakan jalur utama mudik. Nah, jika kurang persiapan maka mudik bagi yang kurang mempersiapkan diri dengan baik itu hanya akan menghasilkan ketidaknyamanan, kesulitan, dan tentu ketidakbahagiaan dalam perjalanan pulang kampung.

Persiapan Bekal Mudik
Berikut adalah beberapa hal yang setidak-tidaknya patut dipersiapkan oleh siapapun yang ingin menjalani ritual mudik ini, antara lain; pertama, kesehatan badan dengan stamina yang fit dan prima. Kondisi kesehatan yang prima sangatlah dibutuhkan oleh para pemudik karena perjalanan yang akan ditempuhnya jauh dan melelahkan, ditambah lagi dengan padatnya arus lalulintas yang sering mengakibatkan stres dan pegal-pegal.
Kedua, kesiapan ongkos dan biaya selama mudik. Ongkos transportasi dikala mudik biasanya agak mahal jika dibandingkan dengan hari-hari biasa, sebab ada istilah ‘tuslah’ dan berbagai macam dalih bagi perusahaan transportasi untuk menaikkan ongkos transportasi bila perlu dua kali lipat harga normal. Biaya selama mudik juga biasanya harus dipersiapkan secara ekstra, sebab harga semua barang kebutuhan pokok naik menjadi sangat istimewa.
Ketiga, oleh-oleh untuk orang tua, keluarga/kerabat. Hal yang terakhir ini meskipun tidak ‘wajib’ tetapi dengan oleh-oleh, keluarga atau kerabat akan merasa dihargai dan diperhatikan meskipun sekedar berupa makanan atau sesuatu yang harganya tidak seberapa, tetapi efek psikologisnya sangatlah terasa dalam mengokohkan ikatan tali persaudaraan dan menghangatkan silaturahmi.

Menuju “Mudik Spiritual”

Dari fenomena mudik secara sosial tersebut diatas, sebenarnya dapat ditarik ‘ibrah’ atau relevansinya dalam konteks ‘mudik spiritual’ menuju Allah swt, Sang Khaliq. Kesadaran ‘mudik spiritual’ seyogyanya menjadi kesadaran umum (common sense) masyarakat muslim Indonesia dengan pemaknaan dan pentakwilan seluas-luasnya. ‘Mudik spiritual’ dapat dimaknai sebagai ‘pulang kembali’ kepada Allah swt dengan meninggalkan segala hal yang dilarangNya, serta menjalankan segala hal yang diperintahkanNya (al-amru bi al-ma’ruf wa al-nahyu ani al-munkar). Allah swt adalah sumber kehidupan dan tempat kembalinya kehidupan. Allah swt adalah asal-muasal kehidupan dan makhluq hidup serta kepadaNya semua bergantung dan akan kembali. Allah swt haruslah menjadi ‘pelita’ yang menuntun dan menerangi jalan terjal hidup setiap manusia, bahwa semua -yang sementara dianggap baik dan buruk- adalah bersumber dari Allah swt.

‘Mudik spiritual’ adalah ‘titik balik’ kesadaran manusia beriman dikala merasa jauh dari Khaliqnya, dikala terlelap dalam nestapa dan terperosok dalam kubangan dosa. Ketika kehidupan seseorang telah terbelenggu oleh keindahan dan kemegahan dunia, dikala segala daya dan upaya hanya terfokus untuk mencari dan mengumpulkan harta kekayaan dengan mengabaikan kewajiban ilahiyah (huququllah) dan insaniyah (huququnnas), maka perlahan-lahan ia secara tidak sadar telah menjauhkan dirinya dari orbit kehidupan, pelan-pelan ia telah menarik dan mengurung diri dalam bilik kegelapan, tarikan nafasnya hanya berbau ‘alkohol dan anggur’ yang memabukkan dan membuatnya lupa siapa dirinya yang sebenarnya, ia lupa darimana berasal dan harus kemana menuju, sebab baginya tumpukan harta di kehidupan dunia ini akan mengekalkannya, tidak akan ada akhir kehidupan (no end of the life) dan semuanya dapat dipermudah dengan harta, semua hal bisa diatur dengan kuasa harta.

‘Mudik spiritual’ adalah momentum manusia Indonesia untuk hijrah dari ‘kemiskinan spiritual’ menuju ‘kekayaan bathin’ yang berlimpah hikmah, hati yang selalu diterangi oleh ‘nurul anwar’ (cahaya di atas cahaya) yang tidak pernah padam yang memancar tidak hanya ‘ke dalam’ sebagai pelita penunutun kebajikan bagi yang memilikinya, tetapi memancar ‘ke luar’ sebagai obor yang mampu menerangi masyarakat di sekitarnya agar mereka mampu menanam kebaikan-kebaikan yang berguna sebagai investasi di kehidupan akhiratnya kelak.

‘Mudik spiritual’ merupakan tonggak kebangkitan kesadaran manusia untuk menyadari dan menemukan kembali (reinvinting) jatidirinya yang telah lama terkubur dalam lumpur hawa nafsu. Jatidiri sebagai makhluq, jatidiri sebagai manusia yang lemah dan tak berdaya dihadapan mahkamah Sang Khaliq. Kebangkitan kesadaran untuk memulihkan hati yang telah terluka karena telah berpaling lama dan tersayat oleh sembilu dosa. Ia harus bangkit dan sadar bahwa ia hanyalah manusia yang harus bersujud menguntai rasaya syukur dan bertasbih menyucikan nama-nama Allah dan tidak pula menyekutukannya. Jatidiri harus ditemukan kembali dan dibersihkan agar menjadi suci untuk bertemu Allah swt. di perjamuan agungNya.

Dengan diktum ‘mudik sosial’ di akhir ramadhan ini, bangsa Indonesia haruslah juga melakukan ‘mudik spiritual’ untuk tidak korupsi, mencuri kekayaan negara, mencuri hak rakyat, dan memeperrendah harga diri bangsa. ‘Mudik spiritual’ untuk tidak membabat hutan dan menjarah kekayaan bumi di dalamnya. ‘Mudik spiritual’ untuk tidak mencemari lingkungan dan mencegah pemanasan global. ‘Mudik spiritual’ dengan menjaga diri untuk tidak berbuat aniaya meskipun dengan kata-kata kepada sesama. ‘Mudik spiritual’ adalah buah puasa yang mengajarkan manusia untuk hanya tunduk dan patuh kepada Tuhannya, hadiah pembelajaran ramadhan yang mengajarkan manusia untuk sabar menahan diri dari segala yang asusila sehingga ia menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa (la’allakum tattaquun).

Sebagaimana pula ‘mudik sosial’, dalam ‘mudik spiritual’ setiap kita juga harus mempersiapkan diri dengan berbagai bekal, bekal menuju Allah swt. Hati, jiwa dan raga harus ‘dicuci bersih’ dari noda dan kotoran dosa. Hati, jiwa dan raga harus ditaburi minyak yang wangi nan menggairahkan bagi yang mencium baunya. Setiap kita juga harus sehat secara rohani dan sehat secara hakiki. Dalam ‘mudik spiritual’ setiap kita juga harus membekali diri dengan pahala, sahadaqah, amal kebajikan, ilmu yang bermanfaat dan investasi generasi yang berguna bagi umatnya.

Dalam ‘mudik spiritual’ setiap kita juga harus mempersembahkan oleh-oleh kepada Sang Khaliq berupa diri yang sudah suci, diri yang hanya menempel di dalam diri itu kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan secara tulus dan ikhlas lii thalabi mardlatillah, oleh-oleh yang berupa sumpah satya bhakti dengan dua kalimat syahadah dan kalimat thayyibah, yang berupa shalat wajib dan shalat malam, yang berupa sedekah yang diikhlaskan, yang berupa puasa dengan menahan amarah dan dahaga, dan yang berupa haji yang dimabrurkan.

Dengan ‘mudik spiritual’ semoga kita, bangsa Indonesia akan menjadi manusia-manusia baru yang baru dilahirkan dari tempahan ramadhan, manusia yang telah kembali fitri dan siap ’menjemput impian’ bertemu dengan Rabbnya, manusia yang penuh dengan kerinduan untuk bertemu (ilqa’) dan menyatu (wihdatul wujud) dengan Sang Kekasih, rabbul izzati wal jalal . Menjadi sosok manusia paripurna (al-insan al-kamil). [mhb]


-Wallahu a’lam bisshawab-